Sabtu, 11 April 2009

Metode dan Teknik Pembelajaran Bahasa:

Kasus Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

Oleh:

Dra. Eri Sarimanah, M.Pd.
Dosen PBS Indonesia FKIP-Universitas Pakuan

Abstrak

Guru sebagai perancang pembelajaran di sekolah kerap menemui kebuntuan manakala diharuskan menggiring para siswa menjadi pusat belajar. Kecenderungan selama ini pembelajaran selalu berpusat pada guru. Guru yang serba tahu, guru yang informan, guru yang mengajar, guru yang aktif. Posisi siswa seolah tidak ada perannya, yang ada hanya sebagai pendengar dan pasif saja. Melihat realita semacam ini, penulis menyampaikan beberapa alternatif yang dapat dijadikan sumber dalam mewujudkan pembelajaran siswa aktif.

Kata Kunci: Pembelajaran bahasa, metode, teknik, siswa aktif

1. Pengantar

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Sekolah Dasar menggariskan enam kompetensi umum yang harus dimiliki oleh pembelajar Sekolah Dasar yaitu: (1) menyimak, menyerap kemudian merespon suatu gagasan pokok dari suatu cerita, berita, perintah, dan informasi lain, (2) mengungkapkan gagasan dan perasaan dalam berbagai konteks dan aktivitas, (3) membaca dengan lancar berbagai teks bacaan, kemudian menjelaskan dan memberi respon atas teks itu dengan bahasa sendiri, (4) menulis berbagai bentuk karangan untuk berbagai tujuan dengan kalimat yang baik dan benar, (5) memahami dan menggunakan berbagai pengetahuan kebahasaan dan kosakata, dan (6) mengapresiasi sastra dengan kegiatan mendengarkan, menonton, membaca, dan melisankan berbagai jenis karya sastra (Depdiknas, 2006: 3-4).

Kompetensi umum di atas harus dicapai oleh pembelajar selama menjalani pembelajaran di jenjang Sekolah Dasar. Pencapaian tersebut bukanlah sesuatu yang mudah dan cepat diwujudkan dalam interaksi di kelas. Untuk mempermudah dan mempercepat pencapaian kompetensi tersebut, diperlukan serangkaian usaha yang kreatif baik dari guru maupun pembelajar itu sendiri dalam menerapkan metode-metode dan teknik-teknik pembelajaran yang bermakna, menarik, efektif, dan komprehensif.

2. Pendekatan, Metode, dan Teknik

Pendekatan diartikan sebagai seperangkat asumsi, persepsi, keyakinan, dan teori tentang bahasa dan pembelajaran bahasa yang akan menjiwai keseluruhan proses belajar bahasa dan berbahasa (Nunan, 1990: 12). Dengan pemahaman atas pendekatan ini, guru akan semakin jelas dalam merencanakan berbagai aktivitas berbahasa yang ditujukan pada pembelajar. Pendekatan ini merupakan suatu abstraksi aksiomatik yang masih harus diterjemahkan secara prosedural dalam metode.

Metode didefinisikan sebagai keseluruhan rencana pengaturan penyajian bahan yang tertata rapi berdasarkan pada pendekatan tertentu metode ini bersifat prosedural (Anthony, 1963: 63-7 dalam Richard, 1966: 15). Sedangkan teknik dimaknai sebagai implementasi praktis dan terperinci berbagai kegiatan yang disarankan dalam pendekatan dan metode.

3. Metode-Metode dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Berikut dipaparkan lima metode beserta teknik-tekniknya yang dikembangkan berdasarkan pendekatan active learning. Kelima metode tersebut adalah (1) Metode Kooperatif, (2) Metode SAVI, (3) Metode Games, (4) Metode Inkuiri, dan (5) Metode Pembelajaran Berbasis Perpustakaan (PBP).

3.1 Metode Kooperatif

3.1.1 Pengertian

Metode Kooperatif dimaknai sebagai serangkaian aktivitas pembelajaran yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pembelajaran tersebut difokuskan pada pertukaran informasi terstruktur antarpembelajar dalam grup yang bersifat sosial dan masing-masing pembelajar bertanggung jawab penuh atas pembelajaran yang mereka jalani (Kagan, 1992: 8).

3.1.2 Prinsip-Prinsip Metode Kooperatif

Ada lima prinsip yang harus diperhatikan dalam penerapan metode kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antaranggota, (5) keberagaman pengelompokan. Saling ketergantungan positif terjadi apabila pencapaian suatu tujuan individu dihubungkan dengan pencapaian tujuan pembelajar lain sehingga terjalin kerjasama yang harmonis antarpembelajar. Tanggung jawab peseorangan ini merupakan suatu akibat dari prinsip pertama. Pembelajar harus memiliki komitmen yang kuat untuk mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya karena dia harus mempertanggungjawabkan aktivitasnya sehingga tidak mengganggu kinerja tim.

Tatap muka ini merupakan suatu bentuk keterampilan sosial yang memungkinkan pembelajar untuk berinteraksi dengan masing-masing kelompok untuk mencapai tujuan aktivitas dan tugas berbahasa. Komunikasi antaranggota perli ditingkatkan dengan memberi bekal keterampilan komunikasi agar mereka bersedia mendengarkan pendapat anggota lain sekaligus dapat menyatakan pendapatnya dengan baik dan komunikatof. Pembelajar bekerja dalam kelompok, yang anggotanya sangat beragam baik dari segi kemampuan, ketertarikan, etnis, maupun jenis kelamin, dan status sosial mereka (Lie, 2002:37-52).

3.1.3 Pengelolaan Kelas dalam Penggunaan Metode Kooperatif

Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dengan pengelolaan kelas yang menerapkan metode kooperatif yaitu: (1) pengelompokan heterogen, (2) penumbuhan semangat dan motivasi untuk kerjasama , dan (3) penataan ruang kelas.

Pengelompokan dilakukan dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang sosial, kemampuan akademik, dan kecakapan berbahasa. Dengan demikian pembelajar dapat saling memberi dan menerima dalam suasana keberagaman. Ada tiga keuntungan pengelompokan heterogen. Pertama, pengelompokan heterogen akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk saling mengajar dan saling mendukung. Kedua, kelompok yang beragam akan semakin meningkatkan interaksi antaretnik, gender, dan tingkatan lainnya. Ketiga, guru dimudahkan dengan bantuan dari pembelajar yang mempunyai kemampuan lebih baik dari pembelajar lain.

Penumbuhan semangat untuk saling kerjasama perlu dilakukan agar setiap pembelajar mau memikirkan pembelajar lainnya. Dengan semangat ini, pembelajar akan dengan mudah menjalin relasi dengan pembelajar lain.

Kelas yang ideal untuk pembelajaran kooperatif adalah kelas yang dapat disetting dengan mudah untuk jalannya diskusi. Meja-meja di satu ruang harus dapat diubah berdasarkan topik/tema pembelajaran.

3.1.4 Teknik-Teknik Kooperatif

Ada empat teknik yang dapat dikembangkan dari Metode Kooperatif ini, yakni (1) mencari pasangan, (2) bertukar pasangan, (3) jigsaw, (4) paired storytelling.

(1) Mencari Pasangan

Teknik ini digunakan untuk memahami suatu konsep kebahasaan tertentu atau informasi tertentu yang harus diungkapkan oleh pembelajar. Teknik ini dapat diterapkan untuk semua tingkatan dengan menyesuaikan hasil belajar yang akan dicapai. Prosedurnya sebagai berikut:

· Guru menyiapkan beberapa kartu yang telah diisi dengan topik atau informasi tertntu.

· Guru membagikan kartu-kartu tersebut kepada siswa secara acak.

· Pembelajar mulai mencari pasangan yang mempunayi kartu yang sesuai denga kartunya. Sebagai contoh, pembelajar yang mendapat kartu bertuliskan atau bergambar KEBUN RAYA BOGOR akan berpasangan dengan pembelajar yang mempunyai kartu TEMPAT ANEKA POHON DARI SELURUH DUNIA.

· Pembelajar juga dapat bergabung dengan pembelajar lain yang mempunyai kartu BATU TULIS akan berpasangan dengan PRASASTI TERTUA DI BOGOR.

· Setelah semua informasi terkumpul mereka harus merangkaikan dan mengembangkan informasi-informasi tersebut secara lisan maupun tertulis.

(2) Bertukar Pasangan

Teknik ini memungkinkan siswa untuk dapat bekerjasama dengan pembelajar lain dalam memberi dan menerima informasi. Teknik ini diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara, menulis (meringkas) dan dapat diterapkan di semua kelas dengan variasi tingkat kesulitannya. Prosedurnya sebagai berikut:

· Pembelajar dibagi dalam kelompok dua-dua (berpasangan).

· Pembelajar mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan pasangannya.

· Setelah selesai mengerjakan tugas itu, setiap pasangan akan bergabung dengan pasangan lain untuk bertukar informasi.

· Kedua pasangan itu saling tukar pasangan; mereka saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban.

· Informasi yang didapatkan dari pasangan baru dibagikan atau disampaikan kepada pasangan semula.

(3) Jigsaw

Teknik ini dapat dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara dengan menggabungkan informasi lintas ilmu. Teknik ini dapat diterapkan di semua tingkatan kelas. Prosedurnya sebagai berikut:

· Pembelajar dibagi dalam kelompok dengan jumlah anggota kelompok empat orang.

· Guru membagi bahan pembelajaran ke dalam empat bagian. Setiap pembelajar menerima satu bagian bahan tersebut. Misalnya teks bacaan yang telah dibagi menjadi empat bagian.

· Pembelajar mengerjakan bagian mereka masing-masing dengan menuliskan ringkasan isi teks tersebut.

· Setelah selesai, masing-masing pembelajar berbagi hasil kerja mereka.

· Setelah berbagi hasil kerja, mereka harus berdiskusi untuk menyatukan berbagai informasi itu untuk membentuk suatu teks yang utuh.

· Hasil akhir kelompok itu disajikan kepada kelompok lain.

(4) Paired Storytelling

Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Bahan pembelajaran yang cocok untuk teknik ini adalah bahan/teks yang bersifat narasi dan deskripsi. Skemata pembelajara harus diperhatikan agar aktivitas kelas dapat berjalan dengan lancar. Prosedurnya sebagai berikut:

· Pembelajar bekerja secara berpasangan dan masing-masing anggota pasangan itu mendapat teks bacaan yang berbeda.

· Setiap pembelajar mulai mengerjakan tugas mereka sambil mencatat dan membuat daftar kata-kata kunci dari teks yang dibaca.

· Setelah selesai mengerjakan bagian masing-masing, pembelajar saling menukar kata/frase kunci yang telah mereka catat dari teks yang dibaca.

· Sambil mengingat cerita/isi teksnya sendiri, pembelajar diminta mengarang bagian yang lain (yang dibaca pasangannya) berdasarkan kata-kata/frase kunci yang diberikan kepadanya.

· Setelah selesai mereka diminta menyajikan hasil karangan itu dan didiskusikan dengan pasangannya untuk mendapatkan berbagai masukan.

· Guru tidak harus mengecek kebenaran isi karanganyang dibuat siswa karena ini bukan tujuan utananya. Tujuannya adalah agar pembelajar semakin berpartisipasi dalam pembelajaran.

3.2 Metode SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)

Metode SAVI merupakan suatu prosedur pembelajaran yang didasarkan atas-atas aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh pembelajar dengan melibatkan seluruh indera sehingga seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Metode ini menuntut keterlibatan penuh seorang pembelajar untuk memperoleh berbagai informasi dan pengalaman dalam proses belajar tersebut. Dalam metode ini, kita diharapkan dapat menyatukan aktivitas-aktivitas tubuh/fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan indera. Unsur dari metode SAVI ini adalah Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual (Meier, 2002: 90).

3.2.1 Unsur-Unsur Metode SAVI

Keempat unsur metode SAVI, yaitu somatis, auditori, visual, dan intelektual akan dibahas satu persatu berikut ini.

a. Belajar Somatis

Belajar Somatis, dalam konteks pembelajaran bahasa, berarti belajar bahasa dengan memanfaatkan indera peraba dan kinestetik yang melibatkan fisik untuk melakukan suatu aktivitas. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pencapaian kemampuan verbal saja tetapi juga diarahkan pada aktivitas-aktivitas fisik yang menyertai aktivitas verbal tersebut sehingga terjadi kepaduan dalam pikiran dan tubuh secara fisuik, bangkit dari tempat duduknya untuk melakukan aktivitas bermakna.

b. Belajar Auditori

Belajar bahasa secara auditori ditekankan pada aktivitas mendengarkan suara-suara melalui dialog-dialog yang tercipta di kelas baik antarpembelajar maupun pembelajar dengan guru secara langsung atau dari alat-alat audio. Dengan demikian, perlulah diciptakan suasana kelas yang memberi keleluasaan bagi pembelajar untuk berdialog secara lisan mengenai berbagai hal. Misalnya, menciptakan kembali pengalaman-pengalaman yang menarik, mengumpulkan suatu informasi dari orang lain tentang suau hal/peristiwa, memecahkan masalah, dan lain-lain.

c. Belajar Visual

Pembelajaran bahasa secara visual menuntut ketersediaan berbagai bentuk/media yang dapat diamati secara langsung oleh pembelajar untuk kemudian membicarakannya dalam bentuk lisan atau tulis. Gambar-gambar, diagram, grafik, bagan, dan bentuk visual lain yang dapat dinikmati akan sangat membantu pembelajar untuk mendapatkan dan mengembangkan informasi terntentu. Hal penting yang dapat dilakukan di kelas untuk meningkatkan kemampuan visual dan berbahasa pembelajar adalah dengan meminta mereka mengamati situasi nyata tertentu, memikirkannya, kemudian membicarakannya kepada orang lain disertai dengan menggambarkan proses, prinsip, atau makna yang diamatinya (Meier, 2002:99)

d. Belajar Intelektual

Intelektual, dalam konteks ini, dimaknai sebagai apa yang dilakukan dlam pikiran pembelajar secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptkan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. Dengan kemampuan intelektual ini, pembelajar dapat menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosional, dan intuitif untuk membuat makna baru bagi diri pembelajar itu sendiri (Meier:99). Kemampuan intelektual dapat ditingkatkan dengan mengajak pembelajar memecahkan suatu masalah yang telah dirumuskan dalam teks tertulis, melahirkan gagasan kreatif dari proses penyaringan informasi, dan meumuskan berbagai pokok pikiran dari suatu wacana.

3.2.2 Prinsip-prinsip Metode SAVI

Pembelajaran bahasa yang mendasarkan diri pada metode SAVI akan lebih efektif apabila memperhatikan beberapa prinsip bahwa:

(1) Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh.

(2) Belajar bahasa adalah belajar berkreasi.

(3) Kerjasama membantu proses belajar bahasa.

(4) Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan dan secara simultan.

(5) Belajar lebih bermakna bila pembelajar mengerjakan sendiri berbagai aktivitas berbahasa (dalam konteks).

(6) Emosi positif sangat membantu pembelajaran.

(7) Gambaran konkrit lebih mudah daripada abstraksi verbal.

Seluruh pikiran dan tubuh dalam pembelajaran bahasa sangat membantu pembelajar untuk menciptakan suatu aktivitas yang kreatif dengan atau melalui bahasa. Kreativitas berbahasa itu akan semakin bermakna apabila memungkinkan mereka berinterkasi secara positif dengan pembelajar lainnya sehingga suasana komunikatif dan penuh aktivitas dapat tercapai. Dengan begitu, seorang pembelajar akan mendapatkan berbagai pajanan dari pembelajar lain sehingga memperkaya pengetahuan dan keterampilan berbahasa mereka. Selain itu, dari munculnya berbagai aktivitas dan terjalinnya interaksi dengan pembelajar lain, tercipta suasana yang kondusif dan menyenangkan untuk belajar bahasa.

3.2.3 Teknik-teknik SAVI

Berikut ini akan dipaparkan beberapa alternatif teknik yang dapat dikembangkan lebih lanjut berdasarkan konteks sekolah atau pembelajar.

1. Mintalah pembelajar untuk memeragakan suatu proses, sistem, atau peran tertentu sehingga secara fisik mereka dapat bergerak dan tentu saja keterampilan seperti berbicara, membaca, menyimak, dan menulis dapat dilakukan dalam serangkaian kegiatan tersebut. Misalnya memeragakan aktivitas di pasar saat jual beli.

2. Pembelajar diberi tugas melalukakan wawancara dengan seseorang dengan profesi tertentu, kemudian mereka membicarakannya di kelas, yang diikuti dengan proses merenungkan/mengambil makna dari aktivitas dan hasil yang telah dilakukan.

3. Bagikanlah teks bacaan kepada pembelajar dan mintalah mereka untuk mencatat hal-hal penting dalam teks tersebut kemudian menguraikannya dengan kata dan kalimat mereka sendiri dalam sebuah rekaman kaset. Pembelajar diminta memutar kaset itu beberapa kali sehingga mereka semakin jelas dengan apa yang telah mereka kerjakan. Teknik ini juga dapat diterapkan ketika meminta pembelajar untuk memahami konsep, definisi, prosedur yang telah dibaca pembelajar.

4. Ajaklah pembelajar ke kantor guru untuk membaca tabel-tabel dan grafik yang ada di sana, lalu mintalah mereka menuliskan hasil pembacaan mereka ke dalam bentuk naratif dan mintalah untuk melaporkan kepada guru atau orang tua mereka.

5. Berilah pembelajar dengan serangkaian cerita yang mengandung permasalahan, dan minta mereka untuk memecahkan masalah tersebut (apabila memungkinkan dengan peragaan).

3.3 Metode Permainan atau Games

Edward T. Hall menyatakan tentang pentingnya games dalam suatu pembelajaran, “salah satu kesalahan terbesar dalam pendidikan adalah overstructuring, yang tidak membolehkan bermain di setiap titik pada proses pendidikan”. Bertolak dari pernyataan tersebut, penting kiranya mengadopsi metode games dalam pembelajaran bahasa. Metode games merupakan serangkaian prosedur pembelajaran bahasa yang difasilitasi dengan berbagai permainan untuk suatu tujuan berbahasa. Dalam metode ini, pembelajar akan dilibatkan dalam berbagai aktivitas dengan aturan-aturan tertentu yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Games yang direncanakan dalam pembelajaran bahasa diharapkan mengarah pada keakuratan (accuracy) dan kelancaran (fluency) berbahasa pembelajar tanpa harus meninggalkan unsur fun atau kesenangan (Hadfield, 1999: 8-10; Meier, 2002:206-207).

3.3.1 Prinsip-Prinsip Metode Permainan atau Games

Pembelajaran bahasa dengan metode games akan menjadi efektif, bermakna, dan tetap menyenangkan apabila dalam pelaksanaannya berdasarkan pada prinsip-prinsip yang dikembangkan beberapa pakar (Meier, 2002:205; Hadfield, 1999: 8-10) sebagai berikut ini.

1) Games yang dikembangkan hendaknya permainan yang terkait langsung dengan konteks hidup pembelajar. Games akan lebih bermanfaat bila dapat memberi pengetahuan, menguatkan sikap-sikap tertentu, dan mendorong pencapaian tujuan berbahasa secara aktif dan komunikatif.

2) Games diterapkan untuk merangsang daya pikir, mengakses informasi, dan menciptakan makna-makna baru.

3) Games yang dikembangkan haruslah menyenangkan dan mengasyikan pembelajar.

4) Games dilaksanakan dengan landasan kebebasan menjalin kerja sama dengan pembelajar lain.

5) Games hendaknya menantang dan mengandung unsur kompetisi yang memungkinkan pembelajar semakin termotivasi menjalani proses tersebut.

6) Penekanan games linguistik pada akurasi isinya, sedangkan games komunikatif lebih menekankan pada kelancaran dan suksesnya komunikasi (dari pada kebenaran bahasa yang dipakai).

7) Games dapat dipergunakan untuk semua tingkatan dan berbagai keterampilan berbahasa sekaligus.

3.3.2 Pengelolaan Kelas dalam Penerapan Metode Permainan atau Games

Kelas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok ketika melaksanakan metode games. Jumlah pembelajar dalam kelompok bisa variatif berdasarkan jenis games yang akan dimainkan. Pengelompokan bisa secara berpasangan, tiga-tiga, atau empat-empat. Kondisi kelas diupayakan dapat diubah-ubah dengan mudah dan cepat untuk mendukung dinamisnya aktivitas. Apabila dimungkinkan, susunan kursi dan meja dapat diubah membentuik huruf U, atau lingkaran, atau dikelompokkan berdasarkan jumlah pembelajar dalam setiap kelompoknya. Apabila games tertentu melibatkan seluruh pembelajar, meja dan kursi dapat dikumpulkan di satu tempat, sehingga tersedia ruangan yang relatif luas untuk melakukan aktivitas.

3.3.3 Teknik-teknik Permainan atau Games

Hadfield (1999: 8-9) memaparkan beberapa teknik yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran bahasa, antara lain: kesenjangan informasi (information gap), menerka (guessing), mencari (search), menjodohkan (matching), mengganti, menukar (exchanging), mengumpulkan (collecting), menggabungkan dan menyusun (combining and arranging), permainan kartu (card games), teka-teki (puzzles), dan role play.

1) Kesenjangan informasi merupakan teknik games yang sederhana. Dalam aktivitas ini pembelajar mendapat informasi yang tidak sama dan mereka harus berusaha melengkapi informasi tersebut dari pembelajar lain. Teknik ini dapat diterapkan baik secara berpasangan maupun berkelompok.

2) Permainan menerka adalah teknik yang sangat umum yang melibatkan dua pihak/kelompok. Kelompok satu memberikan informasi yang belum utuh atau lengkap, sementara itu kelompok lain harus menerka apa yang akan terjadi

3) Permainan mencari (searching games) merupakan variasi games yang melibatkan seluruh pembelajar. Dalam permainan ini setiap pembelajar mempunyai satu informasi (atau lebih) yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah. Masing-masing pembelajar harus berkeliling untuk mendapatkan informasi dari pembelajar lain untuk melengkapi informasi yang mereka punyai sehingga pembelajar berfungsi sebagai penerima dan pemberi informasi sekaligus.

4) Permainan menjodohkan (matching games) ini melibatkan transfer informasi dari satu pembelajar ke pembelajar lain. Permainan ini dapat dilakukan dengan media kartu atau gambar dengan serangkaian informasi yang berkaitan dengan kartu dan gambar tersebut. Pembelajar harus menjodohkan kartu-kartu/gambar dengan informasi yang benar yang ada pada pembelajar lain. Informasi ini dapat berupa pendapat, alternatif pilihan, keinginan, dan kemungkinan-kemungkinan atas suatu persoalan yang harus dicarikan pasangannya.

5) Permainan menukar (informasi) merupakan permainan yang memungkinkan pembelajar melakukan barter dengan pembelajar lain sehingga pembelajar tersebut mendapatkan informasi yang tepat untuk solusi masalah yang mereka dapatkan dan sekaligus dapat juga membantu pembelajar dalam melengkapi informasi.

6) Permainan mengumpulkan informasi ( collecting games) diarahkan pada terkumpulnya serangkaian informasi yang semula terpencar-pencar sehingga dapat dirangkaikan kembali menjadi satu informasi yang utuh dalam membentuk sebuah wacana. Pembelajar harus mengumpulkan informasi tersebut dari pembelajar lainnya dan mendapatkan keseluruhan informasi yang dapat mereka pahami dan manfaatkan sebaik mungkin.

7) Permainan menggabungkan dan menyusun merupakan permainan yang memungkinkan pembelajar menggabungkan informasi yang mereka punyai dengan informasi sejenis yang dimiliki pembelajar lainnya, kemudian menyusunnya dalam suatu tatanan yang telah ditentukan.

3.4 Metode Inkuiri

Metode inkuiri merupakan metode pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan pembelajar untuk mencari dan menyelidiki secara sistemartis, kritis, logis, dan analitis, sehingga pembelajar dapat merumuskan sendiri berbagai penemuan atas berbagai persoalan dengan penuh percaya diri. Ada tiga sasaran utama yang hendak dicapai dalam pelaksanaan metode ini, yakni (1) keterlibatan pembelajar secara maksimal dalam keseluruhan proses belajar, (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada kompetensi yang hendak dicapai, dan (3) mengembangkan rasa percaya diri pada pembelajar atas proses dan temuan yang mereka jalani dan hasilkan. Untuk itu suasana kelas yang terbuka hendaknya diciptakan sehingga pembelajar dapat mengemukakan berbagai pertanyaan dan dapat berdiskusi dengan leluasa (Gulo, 2002: 83-84).

Proses yang harus dijalani pembelajar dengan metode ini meliputi merumuskan masalah, mengembangkan hipotesis atau dugaan sementara, mengumpulkan data-data sebagai bukti, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan. Apabila proses ini dijalankan dengan baik, maka kita sudah membantu pembelajar untuk mengembangkan daya intelektual mereka dengan mengajak mereka mempertanyakan sesuatu dan mencari jawaban yang didasarkan pada rasa keingintahuan mereka terhadap sesuatu.

3.4.1 Prinsip-Prinsip Metode Inkuiri

Beberapa prinsip penting perlu diperhatikan dalam penerapan metode inkuiri adalah sebagai berikut:

1) Pembelajar harus diberi kesempatan dan selalu didorong untuk berpikir kritis karena mereka harus mengumpulkan berbagai bukti untuk membuktikan dugaan dan hipotesis yang telah mereka susun.

2) Komunikasi yang terjalin antarpembelajar semakin menambah pengalaman mereka untuk menemukan suatu alternatif atas suatu persoalan.

3) Kegiatan-kegiatan belajar bahasa yang disajikan dengan semangat inkuiri diarahkan pada menumbuhkembangkan motivasi untuk semakin mengaktifkan pembelajar.

4) Tujuan utama pembelajaran adalah merefleksikan nilai-nilai dan isu-isu penting dalam sebuah wacana.

5) Situasi-situasi inkuiri memungkinkan pembelajar mengembangkan kesadaran untuk berperan dalam kelompok secara aktif dalam menyelesaikan suatu permasalahan lewat komunikasi.

3.4.2 Teknik-teknik Inkuiri

Ada beberap teknik yang dapat dikembangkan dalam metode inkuiri ini, antara lain observasi, wawancara, bainstorming, analisis dokumen, kuesioner, diskusi, dan presentasi. Kelima teknik ini dapat digunakan seluruhnya atau sebagian dalam suatu alur rangkaian penelitian sederhana tergantung situasi dan kondisi yang ada.

1) Teknik ODP (Observasi, Diskusi, dan Presentasi)

Teknik ini dikembangkan berdasarkan pada masalah yang diberikan kepada pembelajar. Mereka harus mencari berbagai data untuk menjawab masalah tersebut melalui serangkaian observasi atau pengamatan lapangan, kegiatan berdiskusi dengan anggota kelompok, dan terakhir mempresentasikan hasil penelitian sederhana itu pada kelas.

2) Teknik WBP (Wawancara, Brainstorming, dan Presentasi)

Teknik ini merupakan variasi dari teknik yang pertama. Hanya saja kegiatan awal untuk pengumpulan data dilakukan dengan wawancara yang kemudian ditutup dengan presentasi kelompok dalam forum kelas.

3) Teknik KDP (Kuesioner, Diskusi, dan Presentasi)

Teknik ini hampir sama dengan kedua teknik di atas, hanya saja kegiatan awal untuk pemecahan masalah itu dilakukan dengan penyebaran kuesioner sederhana. Dalam tahap awal ini, guru dapat membantu pembelajar untuk pembuatan kuesioner itu. Tjujuan penyebaran kuesioner adalah untuk mendapatkan data yang nantinya berguna dalam menjawab permasalahan yang diberikan oleh guru. Tahap selanjutnya dalam teknik ini sama dengan teknik ODP di atas.

4) Teknik Membaca, Mengamati, Mencatat, Meneliti, dan Mengorganisasi Data

Teknik ini memungkinkan pembelajar membaca secara kritis teks-teks tertentu, kemudian membuat serangkaian pertanyaan seputar isi teks, mencatat hal-hal yang penting untuk kemudian membuat organisasi temuan-temuan mereka dari teks yang disediakan.

5) Teknik Sharing Temuan, Kritik, Pencatatan, dan Penarikan Kesimpulan

Teknik ini akan membuat pembelajar dapat mengemukakan berbagai pendapat dan gagasan mengenai topik tertentu sekaligus saling memberi dan menerima kritik atau pendapat mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan lisan atau tertulis.

3.5 Metode Pembelajaran Berbasis Pembelajaran (PBP)

Metode PBP ini merupakan prosedur pembelajaran yang secara maksimal memanfaatkan sumber-sumber kepustakaan untuk pencapaian seperangkat tujuan belajar bahasa. Sumber-sumber kepustakaan dapat berupa buku-buku, majalah, surat kabar, CD, kaset audio, kaset video, dsb.

3.5.1 Prinsip-Prinsip PBP

Rangkaian pembelajaran bahasa berbasis perpustakaan hendaknya memperhatikan prinsi-prinsip sebagai berikut:

1) Pembelajar secara aktif dan proaktif memanfaatkan berbagai sumber kepustakaan yang ada di perpustakaan untuk menunjang pencapaian tujuan belajar.

2) Pengajar bertindak sebagai fasilitator, dalam arti membantu permasalahan dan memberikan beberapa masukan apabila pembelajar mengalami kesulitan yang tak terpecahkan oleh mereka sendiri.

3) Pembelajar melakukan serangkaian kegiatan yang telah direncanakan dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya oleh guru dan petugas perpustakaan.

4) Pembelajar menghasilkan suatu laporan dari aktivitas yang telah mereka lakukan dalam memanfaatkan sumber-sumber pustaka tersebut.

3.5.2 Teknik-Teknik PBP

Teknik-teknik PBP selalu diawali dengan kegiatan membaca, mendengarkan, atau melihat dan mendengarkan semua bahan-bahan yang ada di perpustakaan. Kegiatan membaca dapat dilakukan pada sumber-sumber pustaka seperti buku-buku ilmiah populer, surat kabar, majalah anak-anak, dan sebagainya. Kegiatan mendengarkan dapat dilakukan pada bahan-bahan rekaman audio seperti kaset atau CD, baik yang berisi lagu-lagu, percakapan, cerita, atau berita. Kegiatan melihat dan mendengarkan dapat dilakukan pada bahan-bahan rekaman audiovisual seperti CD yang berisikan cerita anak atau kartun, penemuan-penemuan baru, dan sebaginya.

Dari kegiatan-kegiatan awal itu pembelajar dapat melakukan serangkaian kegiatan lain seperti book report, bermain peran, quis, dan sebagainya. Pada prinsipnya kegiatan-kegiatan kedua selalu dilakukan dengan berdasarkan pada kegiatan-kegiatan awal di atas.

4. Penutup

Berbagai metode dan teknik yang dipaparkan di atas tentu saja tidak dapat diterapkan semua dalam konteks yang sama. Untuk itu, para guru yang mengetahui konteks pembelajarannya hendaknya tetap melakukan seleksi dalam menerapkan metode dan teknik tersebut. Tentu saja masih terbuka kesempatan bagi guru untuk memodifikasi metode dan teknik tersebut berdasarkan berbagai pertimbangan praktis. Di tangan seorang guru yang kreatiflah pembelajaran bahasa Indonesia yang aktif dan komunikatif dapat terwujud.

Pustaka Acuan

Depdiknas. 2002. Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta

Hadfield, Jill. 1999. Beginners’ Communicative Games. London: Longman

Kagan, 1992. Cooperative Learning Resources for Teacher. California: Resource for Teacher

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning: Memprakkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas.

Meier, Dave. 2000. iThe Accelerated Learning Handbook. New York: McGraw-Hill.

Richard, Jack dan Rodgers, Theodore. 1986. Approach and Methods in Language Teaching: A Description and Analysis. New York: Cambridge University Press.


1 komentar:

Destriya Rizky mengatakan...

bermanfaat sekali postingannya :) terimakasih jadi terinspirasi